• April 17, 2026

Ritual masyarakat Aceh untuk mengusir gajah liar

KANDANG, Indonesia – Pria itu terus mengaduk isi panci besar. Asap dari kompor membuat matanya perih. Sesekali ia mengusap sudut matanya dengan jari-jarinya yang keriput.

Senyum langsung tersungging di wajahnya saat melihat Rappler datang ke arahnya. “Aku sedang memasak kari kambing,” jawabnya singkat sambil terus mengaduk. “Tiga ekor kambing disembelih.”

Sekitar lima meter dari tempat pria tersebut memasak, sekelompok pria lainnya juga melakukan hal serupa. Salah satu laki-laki bertugas mengaduk kaldu kambing di dalam panci. Sementara itu, tiga pria lainnya berkumpul dan menyusun kayu bakar di dalam tungku untuk memperbesar api.

Bersamaan dengan itu, sejumlah tokoh masyarakat di Desa Kandang, Kecamatan Sakti, Pidie, Aceh, melantunkan zikir dan puji syukur kepada Allah SWT di atas aula Kompleks Pemakaman Tgk Meureuhom Dikandang.

Kesibukan masyarakat pada Rabu, 19 April tak lain adalah persiapan festival tulak bala, sebuah ritual adat yang dilakukan dengan melantunkan mantra dan berdoa kepada Tuhan agar dijauhkan dari musibah atau penyakit sampar.

Bencana yang mereka hadapi adalah serangan kawanan gajah liar. Dalam dua pekan terakhir, gajah liar menyerbu sawah, kebun, bahkan pemukiman warga.

“Dengan diadakannya festival seperti ini, kami berdoa kepada Tuhan agar gajah liar tidak lagi menghuni pemukiman warga dan tidak mengganggu masyarakat,” kata Imam Mukim Kandang, Tarmizi Ismail, kepada Rappler.

Tarmizi menambahkan, sekitar dua pekan lalu, sekitar 27 ekor gajah liar pertama kali masuk ke Desa Kandang. Kawanan gajah liar ini sebenarnya sudah menghuni perkebunan produktif warga di Pidie sejak Desember 2015.

Di Kandang, kawanan gajah liar bertahan selama dua minggu di kawasan hutan sana. Saat itu, sebanyak empat Kepala Keluarga (KK) yang rumahnya berada di sekitar hutan desa terpaksa mengungsi.

Bahkan, pada Kamis malam, 13 April pekan lalu, seekor gajah liar betina melahirkan bayinya di hutan Desa Kandang. Mau tidak mau, upaya penggusuran terpaksa dihentikan sementara waktu karena induk gajah semakin agresif.

“Kami menilai respon pemerintah terhadap gajah liar yang menghuni pemukiman warga sangat lambat,” kata Tarmizi.

Beruntung, warga setempat dibantu polisi dan TNI serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Selasa, 18 April lalu, berhasil mengantarkan ‘Po Meurah’ tersebut ke habitatnya di hutan.

“Kami berhasil membawanya ke hutan West Gle yang jaraknya 3 kilometer,” kata Tarmizi. Lanjutnya, anak gajah liar yang lahir di kawasan Kandang juga ikut diusir bersama kawanan gajah lainnya.

Kedepannya, kata Tarmizi, pihaknya akan memanfaatkan kembali lahan terlantar tersebut bersama warga. Lokasi lahannya tidak jauh dari rumah warga. “Karena gajah menghuni lahan yang menjadi hutan ini,” ujarnya.

Sebelumnya, festival ‘tulak bala’ juga pernah diadakan pada Senin, 3 April 2017 di Desa Cot Seutui oleh warga Kecamatan Keumala. Tujuannya sama, agar konflik antara gajah dan warga tidak lagi terjadi di sana.⁠⁠⁠⁠

Sebelumnya, warga Pidie juga mengusir kawanan gajah liar dengan petasan dan mematikan gajah peliharaan. Namun, metode ini bukanlah solusi permanen karena gajah liar kembali ke pemukiman.

Seekor gajah mati karena keracunan

Konflik antara gajah liar dan warga sekitar akhirnya membuahkan hasil. Seekor gajah jantan berusia sekitar 25 tahun ditemukan mati di Dusun Munte, Desa Egkan, Gayo Lues, Aceh. Diduga gajah tersebut diracun.

Saat ditemukan, belalai gajah telah terpotong dan calik (gading kecil) hilang. Lokasi ditemukannya bangkai gajah tersebut berada dekat dengan perkebunan warga dan agak jauh dari pemukiman.

Informasi kematian hewan berjuluk ‘Po Meurah’ itu pertama kali diketahui pada Selasa, 18 April. Kemudian sehari kemudian, tim advance Kutacane Resort berhasil mencapai lokasi tersebut. Di sana mereka juga menemukan seekor bayi gajah yang diperkirakan berusia dua hingga empat tahun.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan, kematian gajah tersebut diduga disebabkan oleh racun. Kecurigaan tersebut menguat setelah tim yang terdiri dari dokter hewan, Mahout, BKSDA serta didampingi polisi hutan dan polisi sektor Pining menemukan bangkai gajah tersebut dalam keadaan mati.

Hasilnya, tim menemukan cairan berwarna hitam di dalam tinja dan diyakini merupakan sisa racun yang tertelan. “Kami mengambil sampel hati, usus, limpa, sisa usus, jantung, dan dinding usus untuk dianalisis di laboratorium guna mengetahui penyebab pasti (kematiannya),” kata Sapto, Jumat, 22 April 2017.

Lanjutnya, bangkai gajah jantan itu ditemukan dalam keadaan mulai membusuk, gadingnya hilang, dan belalainya terpotong. Bahkan, kata Sapto, kepala gajah tersebut juga dibelah. Syaratnya (gajah) bukan hanya belalainya yang dipotong, tapi kepalanya juga dipotong, kata Sapto.

Berdasarkan pantauan tim BKSDA, Jumat pekan lalu, bayi gajah yang sebelumnya dilaporkan menunggu di sekitar bangkai gajah tersebut telah hilang. “Anak gajahnya sudah tidak ada lagi, kemungkinan besar akan bertemu lagi dengan kelompok gajah tersebut, sehingga ikut bergabung,” kata Sapto. —Rappler.com

togel sgp