Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang konversi derajat agama
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Muhadjir Effendy mengaku sudah membicarakan rencana sekolah sehari penuh dengan PB NU
JAKARTA, Indonesia – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan hasil kegiatan pembelajaran di Madrasah Diniyah dapat dikonversi menjadi nilai mata pelajaran agama di sekolah.
“Misalnya seorang siswa Madrasah Diniyah hafal suatu surat tertentu dalam Al-Qur’an, meskipun mata pelajaran agama di sekolah tidak mengajarkannya, maka kemampuan anak tersebut harus diakui sebagai prestasi tersendiri dari anak tersebut untuk memperkuat karakternya. religiusitas,” kata Muhadjir kepada Rappler, Kamis, 15 Juni 2017.
Kontroversi rencana penghapusan mata pelajaran agama muncul ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan akan melaksanakan sekolah selama delapan jam sehari, lima hari seminggu atau biasa disebut. sekolah sehari penuh.
Muhadjir yang juga mantan rektor Universitas Muhamadiyah Malang mengatakan, pihaknya sudah membicarakan rencana tersebut dengan kalangan Nahdlatul Ulama.
“Sebenarnya aku melakukannya. Padahal, ketika heboh pertama kali menjadi pendeta, saya masih mendapat audiensi di PB NU. “Seminggu yang lalu, saya sampaikan kembali kepada pimpinan dan pengurus Lapas Ma’arif yang telah melakukan audiensi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” kata Muhadjir melalui pesan singkat.
Protes datang dari berbagai kalangan, termasuk yang menamakan dirinya pelajar Indonesia. M. Rikza Chamami, Pengasuh Pondok Pesantren Al Firdaus YPMI Ngaliyan, Semarang, menulis surat terbuka kepada Presiden Joko “Jokowi” Widodo di dinding Facebook-nya, meminta pemerintah mengevaluasi rencana penutupan sekolah lima hari (SLH). ) untuk melaksanakan ).
“Kebijakan yang berdampak pada 50 juta pelajar tidak bisa diatur hanya dengan keputusan menteri. Banyak yang harus dipikirkan, termasuk masalah logistik. “Bagaimana pemberian bekal kepada siswa, kesiapan guru dan lain sebagainya,” kata JK,
“Masalahnya sangat sederhana. Artinya, masih belum ada tabayyun rincian teknis nasional pelaksanaan SLH pada tingkat teknis. “Sehingga muncul keresahan masif terhadap nasib lembaga pendidikan nonformal dan informal yang terindikasi tidak mendapat jatah (bahkan terancam ditutup),” tulis Rikza Chamami.
Rikza memuat data jumlah pondok pesantren dan sekolah Madrasah Diniyah, serta taman pendidikan Al-Qur’an yang berpotensi terkena dampak kebijakan Mendikbud. Menurutnya, untuk hunian Islam terdapat 13.904 lembaga, santri 3.201.582 orang, dan ustad 322.328 orang.
Untuk Madrasah Diniyah Takmiliyah terdapat 76.566 lembaga, 6.000.062 santri, dan 443.842 ustad. Sedangkan untuk pendidikan Al Qur’an (TKA, TPA, TQA) lembaganya sebanyak 134.860 orang, santri sebanyak 7.356.830 orang, dan ustad sebanyak 620.256 orang. Total ada 225.330 lembaga, 16.558.440 santri, dan 1.386.426 ustad, tulis Rikza.
Sebelumnya, Muhadjir menyayangkan sejumlah informasi yang beredar yang menurutnya tidak tepat dalam mengutip pernyataannya. “Jadi tidak menghilangkan pelajaran agama. Bahkan bisa dijadikan sebagai penguat (pelajaran agama). Jadi tidak ada pengulangan (antara yang diajarkan pada pelajaran agama di sekolah dengan yang diajarkan di pesantren), kata Muhadji.R pada Sosialisasi Peraturan/Kebijakan Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah, di Jakarta, Selasa malam, 13 Juni 2017.
(BA: Mendikbud Bantah Akan Hilangkan Pelajaran Agama)
Protes atas rencana implementasi sekolah sehari penuh sempat dipanggil Presiden Jokowi kepada Muhadjir, Rabu 14 Juni 2017. Usai bertemu Presiden, Muhadjir mengatakan akan ada perubahan teknis dalam pelaksanaannya. Muhadjir juga mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Menteri Agama sebelum kebijakan tersebut benar-benar terealisasi. “Untuk menyusun petunjuk teknisnya,” kata Muhadjir.
Dalam pertemuan buka puasa bersama Pemimpin Redaksi Forum, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, pihaknya mengingatkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyusun rencana program secara matang. sekolah sehari penuh. “Kebijakan yang berdampak pada 50 juta pelajar tidak bisa diatur hanya dengan keputusan menteri. Banyak yang harus dipikirkan, termasuk masalah logistik. “Bagaimana penyediaan bekal untuk siswa, kesiapan guru dan lain sebagainya,” kata JK, Rabu, 14 Juni 2017.
Terkait informasi yang beredar, Presiden Jokowi meminta adanya program sekolah sehari penuh dibatalkan, Muhadjir berkata: “Saya tidak tahu itu. Yang pasti ketika saya menghadap Presiden dan Wakil Presiden ada di sana, dia tidak menceritakan hal itu kepada saya. “Dia hanya meminta sosialisasi lebih intensif,” kata Muhadjir. – Rappler.com